Apa Itu Keracunan Jengkol?

Pohon jengkol yang memiliki nama latin Archidendron jiringa adalah anggotak keluarga Fabaceae, atau biasa dikenal dengan keluarga kacang-kacangan dan polong-polongan. Tumbuh dalam kumpulan yang besar, biji jengkol merupakan sumber makanan penting dan disukai oleh banyak masyarakat Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Myanmar. Jengkol dapat dikonsumsi mentah, goreng, ataupun dimasak. Dibalik rasanya yang lezat, jengkol dapat memberikan bau tidak sedap apabila dikonsumsi. Bau mulut dan urin pun ikut tidak sedap setelah konsumsi jengkol. Bahkan, bagi beberapa orang, keracunan jengkol dapat terjadi.

Keracunan jengkol, atau dikenal dengan nama djenkolism, merupakan sebuah kondisi pennyakit yang menyerang ginjal yang disebabkan oleh asam jengkol. Asam ini banyak terkandung di dalam biji jengkol. Meskipun terdengar menakutkan, keracunan jengkol jarang terjadi, dan kebanyakan hanya terjadi di negara-negara di mana jengkol banyak dikonsumsi, misalnya di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Myanmar. Mereka yang keracunan jengkol akan menunjukkan tampilan klinis yang cukup beragam, mulai dari adanya sumbatan pada saluran kemih, gagal ginjal akut, dan timbulnya rasa nyeri pada perut bawah dan di bagian pinggang setelah mengonsumsi jengkol. Yang lebih mengkhawatirkan, apabila dibiarkan dan tidak diobati oleh tenaga medis, keracunan jengkol dapat menyebabkan kematian. 

Siapa yang berisiko menderita keracunan jengkol?

Tidak semua orang akan menderita keracunan jengkol. Kondisi ini jarang dijumpai dan biasa ditemukan di negara-negara Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Myanmar. Tanaman yang dapat tumbuh dan dipanen setiap tahunnya ini sering dikonsumsi mentah atau dimasak di negara-negara tersebut. Studi menemukan bahwa laporan terjadinya keracunan jengkol meningkat pada bulan-bulan September hingga Desember. Pada bulan tersebut, negara-negara Asia Tenggara sedang memiliki musim hujan, di mana merupakan musim puncak untuk panen dan konsumsi jengkol. Mereka yang keracunan jengkol bisa dari beragam usia, baik tua ataupun muda, dan tidak peduli pria ataupun wanita. Namun, studi menemukan bahwa kebanyakan penderita keracunan jengkol memiliki usia antara 12 hingga 50 tahun. 

Keracunan jengkol disebabkan oleh asam jengkol yang terkandung di dalamnya. Asam jengkol ini adalah asam amino non-protein dengan kandungan sulfur di dalamnya. Sulfur dalam jengkol inilah yang membuat biji tanaman ini berbau menyengat dan tidak sedap apabila dikonsumsi. Adapun kadar asam jengkol yang terkandung di dalam biji jengkol bervariasi, tergantung akan jenis atau varietas jengkol serta usia biji jengkol tersebut, dengan biji jengkol muda mengandung lebih sedikit asam jengkol dibandingkan dengan biji jengkol yang berusia lebih tua. Keracunan jengkol terjadi ketika kadar asam jengkol yang ada di dalam ginjal meningkat. Peningkatan asam jengkol yang tinggi dalam tubuh akan menyebabkan terbentuknya endapan kristal yang tajam. Karena bertekstur keras dan tajam seperti jarum, kristal hasil endapan tersebut sulit atau tidak dapat larut dalam air, sehingga menyebabkan terjadinya endapan di dalam saluran kandung kemih. Dalam kasus yang paling parah, keracunan jengkol dapat menyebabkan kerusakan ginjal, yang berujung dengan kematian. 

Tidak semua orang akan menderita keracunan jengkol sesaat setelah mengonsumsi biji jengkol. Keracunan jengkol akan tergantung pada sistem kekebalan tubuh dan daya tubuh seseorang. Adapun gejala yang timbul apabila seseorang keracunan jengkol di antaranya adalah mual, muntah, rasa nyeri pada daerah perut bawah, rasa nyeri pada pinggang, oliguria dan anuria (kondisi di mana kemih sedikit dan atau tidak berkemih sama sekali), adanya darah saat berkemih yang ditandai dengan urin berwarna kemerahan, serta terjadinnya gagal ginjal akut. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *