bayi & menyusui

Kapan Dapat Dikatakan Bayi Sering Buang Air Besar?

Pencernaan dapat menjadi indikator kesehatan seseorang, baik itu anak bayi ataupun orang dewasa. Ketika bayi sering buang air besar, mungkin tengah terjadi sesuatu di dalam dirinya. Pertanyaannya adalah, indikator apa yang dapat dijadikan sebagai landasan kita untuk menilai bayi sering atau jarang buang air besar?

Untuk menjawab pertanyaan ini harus diakui cukup sulit. Sebab frekuensi buang air besar pada bayi berbeda-beda bergantung dari usia dan tahap perkembangannya. Akan tetapi secara umum, frekuensi buang air besar pada bayi akan berkurang seiring ia bertambah usia.

Sering tidaknya bayi buang air besar dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya karena usus bayi yang sudah berkembang sempurna sehingga bisa menyerap nutrisi atau ASI lebih baik. Agar dapat memastikan sesuatu yang tengah terjadi pada bayi, seorang ibu tak boleh hanya berpatokan pada frekuensi buang air besar. Lebih dari itu, sebaiknya ibu juga  selalu memerhatikan kotoran bayi setiap dia buang air besar.

  • Patokan Frekuensi Buang Air Besar Anak Bayi

Kendati kenyataannya bayi bisa berbeda-beda dalam jumlah buang air besar, tetapi medis memiliki patokan tersendiri untuk itu. Setidaknya bayi akan mengalami empat kali buang air besar sehari dalam beberapa hari setelah kelahirannya. Bahkan ada beberapa kasus untuk bayi yang diberi ASI akan buang air besar sesaat setelah menyusui.

Jumlah itu akan meningkat selama beberapa berikutnya, mereka bisa buang air besar hingga 12 kali dalam sehari. Fenomena bayi sering buang air besar ini sudah umum terjadi sehingga tak perlu khawatir berlebihan. Bayi sering buang air besar bisa berlangsung dari 3 sampai 5 hari, bahkan seminggu sejak kelahirannya.

Seiring berjalannya waktu, bayi yang memasuki umur 12 minggu akan mulai mengalami penurunan frekuensi buang air besar. Setidaknya bayi dalam usia itu hanya akan buang air besar sebanyak1 hingga 8 kali sehari. Banyaknya tergantung dari keadaan sistem pencernaan mereka.

Beberapa bayi yang mendapat ASI secara eksklusif bahkan sering kali tidak buang air besar bahkan hingga 7 sampai 10 hari. Semuanya masih terbilang normal jika bayi masih merasa nyaman. Sementara untuk bayi dengan susu formula dia bisa buang air besar hingga 2 kali sehari.

Ketika bayi menginjak usia empat bulan dengan kondisi belum mengonsumsi makanan padat, frekuensi buang air besarnya akan kembali turun. Dikatakan bayi sering buang air besar jika dalam sehari mereka mengalami lebih dari dua kali. Sebab umumnya bayi di kelompok umur ini mereka hanya buang air besar satu atau dua kali saja.

Setelah bayi mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI) baru semuanya akan berubah. Perbedaan akan terlihat dari frekuensi maupun konsistensi feses anak Anda. Pada usia ini bayi mungkin lebih jarang buang air besar, tetapi waktu buang air besarnya menjadi lebih teratur dari hari ke hari. Namun, jika bayi sering mengalami sembelit, diare, atau tidak buang air lebih dari seminggu, sebaiknya segera cari pertolongan.

  • Bayi Sering Buang Air Besar dan Kaitannya dengan Gangguan Pencernaan

Dari penjelasan di atas sudah dapat dipahami bahwa frekuensi buang air besar tak dapat dijadikan dasar untuk menilai sehat tidaknya kondisi pencernaan bayi. Sebagaii orang tua, Anda justru harus waspada jika bayi menunjukkan tanda-tanda rewel atau bisa dari kondisi fesesnya.

Kondisi feses yang encer, kehijauan, atau berlendir, memiliki kemungkinan soal kondisi pencernaan bayi. Bisa saja mereka mengalami diare atau flu perut (gastroenteritis). Biasanya, flu perut juga disertai dengan muntah karena adanya infeksi pada saluran pencernaan bayi.

Jadi, Anda bisa menaruh curiga jika bayi sering buang air besar disertai dengan kondisi feses yang tidak biasa. Bawalah anak Anda ke pusat kesehatan atau tenaga medis terdekat. Beri mereka pertolongan segera untuk menghindari segala macam risiko kesehatan.