Penyakit

Cara Terbaik Mengatasi Badan Meriang tapi Tidak Demam

Menggigil atau sensasi meriang merupakan cara tubuh untuk menaikkan suhu tubuh yang menurun. Pada saat kondisi ini terjadi, Anda bisa mengalami badan meriang tapi tidak demam ataupun disertai demam.

Jika Anda tak merasa adanya demam di tubuh saat sensasi meriang ini muncul, beberapa kondisi tertentu bisa menjadi penyebabnya. Walaupun kondisi-kondisi tersebut tergolong ringan dan mudah diatasi, segera menanganinya dengan cepat sangat penting untuk menghindari potensi yang lebih serius.

Suhu tubuh normal manusia bukan 37 derajat celcius

Apa Itu Meriang?

Secara umum, tubuh yang menggigil atau mengalami sensasi meriang menandakan bahwa tubuh sedang berupaya menaikkan suhu tubuh yang turun. Saat menggigil, tubuh Anda akan gemetaran akibat otot yang berkontraksi dan rileks untuk menghangatkan tubuh.

Terkadang tak hanya menaikkan suhu tubuh, menggigil juga bisa menjadi tanda bahwa tubuh sedang melawan penyakit, infeksi, virus, atau masalah kesehatan lainnya. Beberapa infeksi yang menyebabkan menggigil antara lain flu, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria, dan bahkan Covid-19.

Naiknya suhu tubuh bisa membunuh virus dan bakteri tersebut. Hal inilah yang menyebabkan menggigil sering disertai dengan demam, namun tidak semua orang yang mengalami demam akan merasakan menggigil. 

Cara Mengatasi Badan yang Meriang Namun Tidak Demam

Jika badan Anda tidak mengalami demam namun tetap menggigil, penyebabnya bisa beragam dari paparan cuaca dingin, reaksi emosional, hingga kadar gula darah yang menurun.

Rata-rata kondisi tersebut masih dapat diatasi dan juga dicegah dengan mudah, baik sendiri maupun dengan penanganan dokter. Mengatasi dan mencegah dengan cepat adalah kunci penting untuk menghindari potensi terjadinya hal yang lebih serius dan membahayakan nyawa.

1. Segera menghangatkan diri

Apabila Anda menggigil karena cuaca yang dingin, segera menghangatkan diri bisa langsung menghentikannya. Anda bisa menggunakan pakaian yang lebih tebal, mandi air hangat, dan juga meminum minuman hangat, seperti teh herbal.

Menjaga tubuh tetap terhidrasi juga membantu tubuh meregulasi suhu dengan baik. Badan meriang tapi tidak demam bisa jadi serius bila Anda mengalami hipotermia atau frostbite akibat penanganan yang tidak segera dilakukan saat terekspos udara dingin, dan berpotensi membahayakan nyawa.

2. Mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula

Anda juga bisa segera mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula, khususnya bila menggigil tersebut disebabkan oleh hipoglikemia atau kondisi kadar gula darah rendah.

Jika Anda mengalami hipoglikemia namun tidak mengidap diabetes, seimbangkan kadar gula darah Anda dengan meminum jus jeruk atau mengonsumsi permen. Atau bila Anda khawatir akan adanya indikasi penyakit tertentu, bisa juga memeriksakannya ke dokter.

Jika hipoglikemia terjadi pada Anda yang mengidap diabetes, konsumsi tablet glukosa jika Anda memilikinya. Selain itu, Anda juga bisa mengonsumsi sekitar 15 gram karbohidrat untuk menaikkan kadar gula darah. Jika sudah melakukan cara ini namun gejala tidak juga membaik, segera periksakan ke dokter. 

3. Lakukan latihan pernapasan

Bagi Anda yang mengalami rasa menggigil akibat reaksi emosi yang intens, bisa mencoba mengatasinya dengan melakukan latihan nafas dalam atau teknik relaksasi untuk menenangkan diri Anda.

Secara umum, kondisi ini akan mengaktivasi respons ‘fight or flight’ alias melawan atau kabur. Rasa ingin kabur atau lari cenderung lebih besar, namun sangat direkomendasikan untuk melawan keinginan tersebut untuk tetap berpikir logis dan menghindarkan Anda dari risiko melakukan hal-hal yang merugikan.

4. Segera ganti baju kering

Segera ganti baju Anda dengan baju yang kering jika Anda mengalami meriang yang muncul setelah melakukan olahraga dengan aktivitas berat. Keringat yang muncul berlebihan bisa membuat Anda menggigil hebat bila tidak segera diganti.

Selain itu, Anda juga bisa mencoba mandi atau berendam menggunakan air hangat setelah terpapar udara dingin. Pastikan menggunakan baju yang kering dan hangat setelah mandi, serta tutupi bagian kepala, tangan, dan kaki untuk membantu tubuh menyimpan suhu hangat lebih banyak dan cepat. 

5. Hindari berolahraga di suhu ekstrem

Melakukan olahraga ekstrim, seperti lari maraton misalnya, di tengah cuaca yang sangat panas atau sangat dingin bisa menyebabkan Anda mengalami meriang, baik disertai demam maupun tidak.

Oleh karena itu, sebaiknya hindari berolahraga pada saat suhu ekstrem dan batasi durasi Anda saat melakukan aktivitas intens. Menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan perbanyak minum air dapat membantu meregulasi suhu tubuh dengan baik. 

6. Konsumsi suplemen atau makanan tinggi zat besi

Mengonsumsi suplemen atau makanan yang mengandung zat besi bisa membantu mengatasi rasa meriang atau menggigil pada tubuh Anda, terutama jika Anda mengalami anemia atau kadar sel darah merah yang rendah.

Beberapa makanan yang tinggi akan zat besi antara lain bayam, daging merah, tiram, selai kacang, biji labu, kacang merah, dan buah-buahan kering. Pada kasus yang lebih serius, anemia bisa mengharuskan seseorang menjalani transfusi darah. 

7. Periksakan ke dokter

Kondisi lainnya yang bisa menyebabkan rasa meriang adalah hipotiroidisme, di mana kelenjar tiroid tidak memproduksi hormon tiroid yang cukup agar tubuh mampu meregulasi metabolisme dan menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. 

Hipotiroidisme umumnya membutuhkan penanganan dokter dan konsumsi obat-obatan. Dengan penanganan segera, gejala bisa segera membaik dan membantu fungsi tiroid Anda berangsur-angsur normal kembali.

Pada umumnya, badan meriang tapi tidak demam yang tidak disebabkan oleh penyakit bisa segera hilang dalam waktu hitungan jam atau hari. Anda wajib memeriksakan ke dokter segera apabila gejala tidak juga membaik setelah melakukan beberapa cara mengatasi dan pencegahan di atas.

Penyakit

Kenali Beragam Terapi Perawatan Bayi Penderita Hidrosefalus, Salah Satunya Ventriculoperitoneal Shunt

Ventriculoperitoneal Shunt

Penyakit hidrosefalus lebih sering dialami oleh bayi. Penyakit ini umumnya ditandai dengan ukuran kepala bayi yang membesar dibanding ukuran normal akibat penumpukan otak. Adapun terapi yang bisa dijalani untuk penyakit ini adalah ventriculoperitoneal shunt dan ventrikulostomi.

Sebenarnya, hingga kini belum ada cara yang benar-benar bisa menyembuhkan penyakit hidrosefalus sepenuhnya. Oleh karena itu penting sekali untuk melakukan deteksi dini dan tindakan pencegahan. Sehingga kualitas hidup pasien penderita hidrosefalus pun bisa lebih meningkat.

Langkah Diagnosis Penyakit Hidrosefalus pada Bayi

Untuk mendeteksi dan mendiagnosis penyakit hidrosefalus ini lebih awal, maka ada beberapa cara yang bisa dilakukan, yaitu:

  • USG prenatal

Ibu hamil penting sekali untuk melakukan USG prenatal secara rutin karena ini bisa menjadi salah satu cara untuk mendeteksi dengan dini apabila janin yang berkembang dalam kandungan memiliki hidrosefalus. 

  • Mengukur kepala bayi setelah lahir dengan teratur

Apabila bayi sudah lahir, maka perlu dilakukan pengukuran kepala bayi dengan teratur. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi hidrosefalus lebih dini. Apabila ada kelainan yang ditemukan, perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan lainnya.

  • MRI dan CT Scan

MRI atau magnetic resonance imaging dan CT Scan bisa menjadi cara untuk memastikan dan memeriksa otak bayi secara lebih rinci.

Penyakit hidrosefalus ini memang tidak bisa dianggap remeh dan harus segera diobati. Penanganannya untuk mengurangi tekanan. yang terjadi dalam otak bayi. 

Bila tidak ditangani segera, akan berisiko adanya kerusakan serius yang terjadi terjadi di otak yang mengatur berbagai fungsi penting di tubuh. Misalnya detak jantung dan pernapasan bayi. 

Memberikan penanganan yang tepat dan cepat, bayi dengan hidrosefalus bisa menjalani kehidupan yang normal. 

Berbeda jika bayi punya masalah medis yang lebih kompleks lagi, misalnya spina bifida atau perdarahan di otak yang terjadi sejak prematur. Kondisi ini tentu membutuhkan banyak kondisi kesehatan yang perlu ditangani.

Tingkat keparahan dan luas gejala hidrosefalus ini juga mempengaruhi. Tak sedikit anak yang mengidap hidrosefalus mengalami kerusakan otak seumur hidup karena mempengaruhi perkembangan fisik dan kecerdasannya.

Tentu saja bayi penderita hidrosefalus ini akan hidup dengan berbagai keterbatasan. Namun, efek kecacatan bisa diminimalisir dan dikendalikan dengan bantuan tenaga profesional.

Terapi untuk Bayi Penderita Hidrosefalus

Meski penyakit hidrosefalus sudah bisa terdeteksi semenjak bayi dalam kandungan, namun pengobatan tentu baru bisa dilakukan saat bayi sudah dilahirkan. Berikut beberapa pilihan terapi yang bisa dilakukan, yakni:

  1. Ventriculoperitoneal shunt

Ventriculoperitoneal shunt merupakan terapi yang umumnya dijalani oleh penderita hidrosefalus. Terapi ventriculoperitoneal shunt dilakukan dengan memasang tabung khusus di otak yang berguna mengalirkan cairan berlebih dari otak ke bagian tubuh lain yang mudah diserap, misalnya rongga dada, perut, maupun ruang jantung. Cairan tersebut nantinya akan diserap oleh aliran darah. 

Adapun tabung yang dimaksud adalah yang berukuran panjang dan fleksibel, dengan katup yang menjaga cairan dari otak ke arah yang benar dan juga pada tingkat yang tepat. 

Katup inilah yang akan mengatur aliran sehingga tidak terjadi pengeringan berlebihan di otak atau sebaliknya. 

Terapi shunt ini bisa digunakan untuk mengobati hidrosefalus dan akan selalu diperlukan oleh penderita seumur hidup.

Sayangnya, alat ini tidak bisa bertahan selamanya, sehingga perlu dilakukan operasi jika alat sudah berhenti berfungsi. Seiring pertumbuhan dan perkembangan bayi, operasi tambahan pasti juga dibutuhkan untuk memasukkan tabung berukuran lebih panjang.

Jadi, ventriculoperitoneal shunt sangat perlu dipantau secara rutin.

  1. Ventrikulostomi

Ventrikulostomi atau Endoscopic Third Ventriculostomy (ETV) termasuk pilihan pengobatan penyakit hidrosefalus yang cukup jarang dilakukan pada bayi. 

Terapi ini dilakukan dengan memasukkan kamera kecil ke otak bayi dan membuat di salah satu rongga otak atau ventrikel akan dibuat lubang menggunakan suatu alat untuk membuka penyumbatan. 

Lubang ini akan mengalirkan cairan yang berlebih di otak sehingga cairan akan diserap dalam aliran darah.

Bayi yang menderita hidrosefalus memang mengalami berbagai kelainan perkembangan, termasuk soal ingatan, kecerdasan, dan penglihatan. Akan tetapi, perawatan yang tepat bisa membuat penderita hidrosefalus bertahan hidup, bahkan memiliki kecerdasan normal.

Penyakit

Chordee, Cacat Kelamin yang Sebabkan Penis Bengkok pada Anak-anak

Penis bengkok umumnya disebabkan oleh penyakit Peyronie dan cedera. Penis bengkok juga bisa terjadi saat ereksi dan merupakan hal yang normal. Karena itu penis bengkok lebih banyak dialami oleh pria dewasa. 

Anak-anak juga bisa mengalami penis bengkok yang diakibatkan oleh kelainan yang disebut dengan chordee. Kelainan ini membuat ujung penis melengkung ke atas atau bawah.

image Penis Bengkok

Chordee relatif umum terjadi pada sekitar 1 dari setiap 200 kelahiran anak laki-laki. Lengkungan pada penis pun cenderung ringan dan tidak akan menimbulkan komplikasi. Namun tak jarang dokter menyarankan untuk operasi. 

Penyebab chordee

Normalnya, dalam waktu 10 minggu kehamilan perkembangan suatu jaringan menjadi penis sudah selesai. Ketika penis tiba-tiba berhenti tumbuh selama perkembangan janin dalam rahim akan menyebabkan cacat kelamin yang disebut chordee. 

Belum diketahui dengan jelas penyebab jaringan penis berhenti tumbuh, namun riwayat genetika dipercaya menjadi salah satu alasannya. 

Sunat yang dilakukan saat penis anak meradang juga bisa menyebabkan chordee setelah kelahiran. Hal ini karena jaringan parut yang tebal akan menarik penis ke atas atau ke bawah, dan menyebabkan penis bengkok. 

Chordee juga kerap dikaitkan dengan hipospadia, kondisi dimana lubang uretra terletak di bagian bawah penis. Tak jarang penderita hipospadia juga mengalami kelengkungan penis bawaan.

Apa saja gejala chordee?

Gejala chordee yang paling terlihat adalah penis bengkok ke atas atau ke bawah. Lekukan bisa dimulai dari pangkal penis hingga kelenjar. 

Jika Anda juga menderita hipospadia, saat buang air kecil urin mungkin memercik ke arah yang tidak diinginkan. Namun gejala ini tidak terjadi di semua kasus. 

Tanda dan gejala lainnya termasuk:

  • Torsio penis 
  • Jaringan di sekitar uretra di dekat ujung penis sangat tipis
  • Kulit di bawah batang penis terhubung ke kulit skrotum, sehingga tampak seperti area berselaput
  • Kulup hanya menutupi setengah bagian atas penis

Dalam kasus chordee ringan, derajat lengkungan pada penis hampir tidak terlihat sampai dia mendapatkan ereksi pertamanya selama masa pubertas. 

Pada beberapa pria, kelainan tersebut dapat menyebabkan ketidaknyamanan saat berhubungan seksual. 

Perbedaan chordee dan penyakit Peyronie

Kelengkungan penis yang ringan biasanya tidak membutuhkan perawatan medis sehingga anak laki-laki dengan kelengkungan penis bawaan (chordee) ringan akan hidup dengan penis bengkok sampai dewasa. Itu bisa membuat Anda bingung apakah penis bengkok disebabkan oleh chordee atau penyakit Peyronie. 

Kelengkungan penis bawaan tidak melibatkan jaringan parut, seperti pada kasus penyakit Peyronie. Selain itu lengkungan penis akibat chordee biasanya ke atas atau seperti kurva lateral, dan tidak akan berubah seiring waktu. 

Perawatan dan pengobatan

Karena chordee merupakan bawaan lahir, chordee dapat mulai didiagnosis segera setelah anak lahir. Tes diagnostik lainnya meliputi:

  • Menggunakan larutan garam untuk melihat derajat lekuk penis. Jika penis bengkok sebanyak 30° ke atas atau ke bawah, dokter akan menyarankan operasi.
  • Tes urin dan darah untuk memeriksa kesehatan anak secara keseluruhan

Dokter juga akan merujuk Anda ke ahli urologi anak untuk memastikan diagnosis dan melakukan operasi yang diperlukan. 

Bagi penderita hipospadia sekaligus chordee, pasien akan menjalani dua operasi untuk mengembalikan penis yang bengkok dan memperbaiki letak lubang uretra ke posisi yang seharusnya.  

Untuk chordee yang disebabkan luka sunat, dokter bedah mungkin menggunakan teknik operasi plastik yang disebut Z-plasty. 

Catatan

Penis bengkok lebih dari 30 derajat harus segera dioperasi. Peluang keberhasilannya jauh lebih tinggi jika pembedahan dilakukan saat anak berusia 4 – 6 bulan. Penundaan pengobatan bisa membuat operasi lebih kompleks dan menyebabkan komplikasi pasca pembedahan. 

Selama pemulihan, berikan obat yang diresepkan secara rutin dan jaga kebersihan area genital anak. Hindari aktivitas berat yang bisa memperlambat penyembuhan luka. 

Segera hubungi dokter jika anak mengalami komplikasi pasca operasi penis bengkok, seperti jahitan keluar, nyeri dan infeksi di sekitar penis, demam tinggi, dan kesulitan buang air kecil.

Penyakit

Sering Mengantuk di Siang Hari? Mungkin Ini Penyebabnya

Sering Mengantuk

Umumnya, rasa kantuk datang di malam hari saat tubuh memerlukan waktu untuk beristirahat. Akan tetapi, tidak jarang orang-orang sering mengantuk bahkan di pagi atau siang hari. 

Sebenarnya, rasa kantuk yang muncul terus menerus adalah gejala umum dari kurangnya kualitas tidur. Kualitas tidur yang buruk bisa disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari gaya hidup sampai dengan kondisi medis tertentu.

Hal yang menyebabkan sering mengantuk

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, ada beberapa hal yang bisa membuat Anda merasa sering mengantuk. Berikut ini beberapa penyebab yang paling umum:

  • Kondisi mental

Anda mungkin tidak menyadari bahwa rasa kantuk dipengaruhi juga oleh kondisi mental. Ini sering terjadi pada orang-orang yang mengalami stres atau gangguan emosional dan psikologis lainnya.

Depresi, stres, dan tingkat kecemasan yang sangat tinggi bisa membuat Anda mudah mengantuk. Hal ini juga akan membuat Anda mudah merasa lelah dan menjadi apatis. 

  • Kebiasaan tidur yang buruk

Kebiasaan tidur yang buruk akan sangat berpengaruh pada rasa kantuk di pagi atau siang hari. Kebiasaan ini mungkin sudah terbangun sejak Anda masih sangat muda.

Banyak orang yang terpaksa mengurangi waktu tidurnya karena alasan pekerjaan. Tapi sebenarnya, apa pun alasannya, mengurangi waktu tidur bukanlah keputusan bijak. 

Karena, hal itu hanya akan membuat Anda mudah mengantuk dan menjadi kurang produktif di siang hari.

  • Pemakaian obat-obatan tertentu

Beberapa jenis obat-obatan bisa menimbulkan efek samping berupa rasa kantuk. Contohnya seperti antihistamin, obat penenang, dan pil tidur. 

Apabila obat yang Anda konsumsi menimbulkan rasa kantuk berkepanjangan, Anda bisa mencoba berkonsultasi dengan dokter Anda. Siapa tahu saja, dokter bisa memberikan anjuran alternatif obat supaya produktivitas Anda tidak terganggu.

  • Sleep apnea

Sleep apnea merupakan salah satu kondisi medis yang ditandai dengan hentinya napas ketika tidur. Dalam satu malam, bisa saja Anda mengalami momen ini beberapa kali. 

Tidak semua penderita sleep apnea menyadari bahwa mereka mengalami kondisi tersebut. Ketika napas terhenti, kualitas tidur Anda akan terganggu dan menyebabkan sering mengantuk di siang hari.

Apakah sering mengantuk berbahaya?

Dampak terbesar dari rasa kantuk terus menerus adalah menurunnya produktivitas. Rasa kantuk ini sebenarnya tidak berbahaya dan bisa diobati sendiri di rumah. Namun, Anda mungkin perlu berhati-hati apabila rasa kantuk tersebut diikuti dengan gejala berupa:

  • Perasaan tak nyaman di area kaki pada malam hari ketika berbaring
  • Gejala sleep apnea, seperti sering buang air kecil saat malam hari, jantung berdebar-debar, sakit kepala di pagi hari, dan mulas pada malam hari
  • Sering terbangun dan tidak pulas saat tidur di malam hari
  • Memerlukan waktu lebih dari 20-30 menit untuk kembali tidur setelah terbangun di malam hari
  • Gangguan pernapasan ketika tidur, termasuk mendengkur dan napas terengah-engah
  • Mengalami kelumpuhan tidur berulang kali, ditandai dengan ketidakmampuan untuk bergerak saat bangun atau tertidur, disertai dengan halusinasi
  • Kelemahan oto secara tiba-tiba sebagai respon terhadap suatu emosi, seperti melemahnya otot lutut ketika tertawa
  • Halusinasi ketika tidur dan bangun tidur

Jika Anda mengalami tanda-tanda di atas, mungkin Anda menderita kondisi medis tertentu yang berbahaya. Artinya, kondisi sering mengantuk yang Anda alami perlu segera mendapatkan pertolongan dari dokter. Karena itu, lakukan pemeriksaan ke dokter dengan segera bila merasakan hal ini.

Mengapa Kepala Terasa Berat?
Penyakit

Mengapa Kepala Terasa Berat?

Beberapa jenis kondisi dapat menyebabkan sensasi kepala terasa berat, tegang, dan penuh tekanan di kepala. Sensasi tersebut memiliki tingkat intensitas yang beragam, mulai dari ringan hingga parah. Kebanyakan kondisi yang menyebabkan tekanan pada kepala tidak perlu menimbulkan kekhawatiran. Beberapa penyebab umum di antaranya adalah tension headache atau sakit kepala tegang, sebuah kondisi yang memengaruhi sinus, serta infeksi telinga. Namun, tekanan kepala parah atau tidak normal juga dapat menjadi sebuah tanda adanya gangguan medis serius, seperti aneurysm dan tumor otak. Namun, kedua kondisi tersebut jarang dijumpai. 

Kepala terasa berat atau adanya tegangan di kepala memiliki banyak penyebab. Sakit kepala tegang dan sakit kepala sinus merupakan dua kondisi yang paling sering menyebabkan kepala terasa berat

Sakit kepala tegang atau tension headache

Rasa nyeri akibat sakit kepala tegang biasanya bersifat ringan hingga sedang. Beberapa orang akan mendeskripsikan kondisi ini seperti adanya gelang karet yang meremas kepala. Dikenal pula dengan istilah tension-type headache (TTH), sakit kepala tegang merupakan sebuah kondisi sakit kepala paling umum dijumpai. Kondisi ini memengaruhi sekitar 42 persen dari populasi dunia. Namun, penyebab pasti kondisi ini tidak dipahami dengan baik. Beberapa penyebabnya di antaranya adalah stres, kecemasan, depresi, dan postur tubuh yang buruk. 

Sakit kepala sinus dan kondisi sinus lainnya

Kondisi ini terasa seperti adanya tekanan terus menerus di belakang dahi, mata, pipi, rahang dan hidung. Anda juga dapat menderita gejala lain, seperti hidung tersumbat. Ketika sinus meradang, sinus akan memproduksi lendir berlebih, yang dapat menyebabkan tekanan kepala. Kondisi ini juga dikenal dengan sebutan sakit kepala sinus. Penyebabnya adalah alergi, demam dan flu, dan infeksi sinus. 

Kondisi telinga

Kondisi telinga terasa seperti adanya tekanan konstan di telinga, rahang, dan sisi kepala. Kondisi telinga dapat memengaruhi satu atau kedua sisi kepala. Infeksi telinga dan penyumbatan kotoran telinga merupakan kondisi telinga yang paling umum dijumpai, dan dapat menyebabkan tekanan kepala ataupun sakit telinga. Penyebabnya adalah barotrauma telinga, infeksi telinga, penyumbatan kotoran telinga, labyrinthitis, gendang telinga yang pecah, dan infeksi telinga bagian luar. 

Migraine

Rasa nyeri migraine biasanya dideskripsikan sebagai sesuatu yang berdenyut. Kondisi ini biasanya terjadi pada salah satu sisi kepala, dan dapat bersifat sangat intens sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Migraine biasanya ditemani dengan gejala tambahan seperti mual dan muntah, serta sensitivitas terhadap cahaya dan suara. Migraine merupakan jenis sakit kepala yang lazim dijumpai. Kondisi ini biasanya pertama muncul pada saat awal remaja, dan sering kambuh kembali saat seseorang beranjak dewasa. Penyebab migraine tidak dimengerti secara pasti, namun faktor lingkungan dan genetik berperan dalam terjadinya kondisi ini. 

Tumor otak

Kepala terasa berat juga dapat disebabkan karena tumor otak. Kondisi ini awalnya akan terasa seperti leher atau kepala yang terasa berat. Tumor otak dapat menyebabkan sakit kepala parah dan sering ditemani dengan gejala lain, seperti gangguan ingatan, gangguan penglihatan, dan kesulitan berjalan. Tumor otak terjadi ketika sel tumbuh dan berkembang biak untuk membentuk masa tidak normal di otak. Tumor otak merupakan sebuah kondisi yang jarang dijumpai. 

Penyebab kepala terasa berat yang paling sering dijumpai adalah sakit kepala tegang dan sakit kepala sinus. Kedua kondisi ini mudah diatasi dengan perawatan yang cepat dan tepat. Dalam kasus yang langka, kepala terasa berat dapat menjadi tanda adanya kondisi kesehatan yang lebih serius, seperti tumor otak.

Waspadai Bahaya Coccidioidomycosis, Infeksi dari Jamur yang Terhirup
Penyakit

Waspadai Bahaya Coccidioidomycosis, Infeksi dari Jamur yang Terhirup

Infeksi bisa terjadi pada siapa saja dan disebabkan oleh apa saja, baik itu bakteri, virus, parasit, maupun jamur. Salah satu infeksi jamur yang perlu Anda waspadai adalah coccidioidomycosis.

Kondisi ini merupakan infeksi jamur yang menyerang paru-paru. Anda bisa terkena infeksi ini apabila menghirup spora jamur yang berasal dari tanah. 

Bagaimana seseorang terkena coccidioidomycosis?

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, coccidioidomycosis terjadi ketika Anda menghirup spora jamur. Spora jamur ini tumbuh di dalam tanah dan berkembang dalam debu. 

Jamur yang menyebabkan penyakit ini beredar di udara setelah debu dan tanah yang terkontaminasi diganggu oleh manusia maupun hewan. Anda mungkin tidak bisa melihat spora jamur tanpa mikroskop. Jadi, ketika menghirupnya, Anda sendiri mungkin tidak menyadarinya. 

Setelah terhirup, spora akan masuk ke paru-paru. Suhu tubuh manusia bisa memicu spora untuk berubah bentuk dan tumbuh menjadi spherule. Setelah spherule cukup besar, mereka akan memecahkan diri dan melepaskan potongan yang lebih kecil. 

Potongan kecil ini kemudian berpotensi menyebar ke dalam paru-paru dan organ tubuh lainnya. Akibatnya, Anda akan mengalami infeksi. 

Apakah coccidioidomycosis merupakan kondisi serius?

Penyakit ini memang bukan penyakit langka, tapi juga bukan penyakit yang sangat umum. Banyak orang yang sudah merasakan gejala bisa sembuh dengan sendirinya tanpa perlu melalui pengobatan khusus. 

Meski begitu, ada juga orang yang mengalami komplikasi serius setelah menderita coccidioidomycosis. Hal ini lebih rentan terjadi pada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. 

Anda mungkin akan merasakan beberapa gejala ketika terserang kondisi ini. Gejala yang paling umum adalah: 

  • Batuk berdahak
  • Kelelahan
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot dan sendi
  • Ruam kulit
  • Benjolan bengkak di kaki

Gejala-gejala itu serupa dengan gejala dari penyakit-penyakit lainnya. Oleh sebab itu, banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya menderita infeksi ini. 

Selain itu, karena gejalanya sangat umum, dokter juga mungkin akan kesulitan untuk melakukan diagnosa. Dalam kondisi yang cukup parah, penderita bisa merasakan gejala tambahan berupa: 

  • Kebingungan
  • Leher kaku
  • Kepekaan terhadap cahaya

Faktor risiko coccidioidomycosis

Infeksi ini sebenarnya bisa menyerang siapa saja. Namun, secara khusus, akan lebih parah ketika Anda memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Berdasarkan kasus yang pernah terjadi sebelumnya, sebagian besar penderita coccidioidomycosis adalah lansia yang sudah berusia 60 tahun ke atas. Beberapa golongan faktor risiko lainnya meliputi: 

  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah
  • Penderita HIV/AIDS
  • Pernah menjalani transplantasi organ
  • Sedang mengonsumsi obat-obatan kortikosteroid
  • Wanita hamil
  • Penderita diabetes

Jika keluarga atau teman dekat Anda menderita infeksi ini, Anda tidak perlu khawatir tertular. Karena, infeksi ini bukanlah infeksi yang menular. Selama Anda tidak menghirup spora jamur secara langsung, maka Anda tidak akan mengalami gejala yang sama.

Biasanya, orang yang sudah pernah menderita kondisi ini tidak akan mengalaminya lagi di kemudian hari. Karena, sistem kekebalan tubuh Anda sudah mengenali infeksi spora jamur, dan membentuk perlindungan sehingga Anda tidak akan mengalaminya lagi. 

Walaupun, dalam beberapa kasus, tetap ada orang yang bisa menderita hal yang sama untuk kedua kalinya karena sistem kekebalan tubuhnya tidak cukup kuat. Jika Anda mengalami gejala dari coccidioidomycosis, selama tidak mengganggu aktivitas Anda, maka Anda bisa menunggu sampai gejala sembuh dengan sendirinya.

Penyakit

Peranan Bakteri Baik bagi Kesehatan Tubuh yang Perlu Anda Tahu

Peranan Bakteri

Bakteri mungkin selama ini dikenal sebagai sumber penyakit. Padahal sebenarnya, ada berbagai peranan bakteri dalam kehidupan manusia. Bahkan ada bakteri yang melindungi tubuh dari infeksi.

Mengenal Bakteri 

Bakteri merupakan organisme mikroskopis yang sebenarnya tidak bisa dilihat menggunakan mata tanpa adanya alat bantu. Peranan bakteri pun sebenarnya tidak hanya sebagai sumber penyakit. Ada pula bakteri baik (probiotik) yang gunanya melindungi tubuh dari berbagai bahaya infeksi.

Bakteri sendiri ada yang baik dan jahat. Setiap jenis bakteri ini bisa bertahan bahkan dalam kondisi yang ekstrim sekalipun. Seperti bakteri penyebab penyakit, mereka seperti punya tameng yang membuatnya semakin tidak mudah dikalahkan sel darah putih.

Mengenal Bakteri Baik dan Jahat

Jangan salah, bakteri tidak selamanya berbahaya bagi kesehatan. Ada bakteri baik yang ditemukan dalam perut dan mulut. Ada berbagai macam bentuknya, seperti memiliki ekor, bulu-bulu, dan sebagainya. Berikut penjelasan lebih jelas mengenai bakteri jahat dan baik yang perlu diketahui.

  1. Bakteri Baik

Tahukah Anda bahwa ternyata tubuh manusia menjadi rumah bagi sekitar 100 triliun bakteri baik? Sebagian besar bakteri ini ada di sistem pencernaan. Peran bakteri baik ini akan membantu tubuh sehingga bisa menyerap nutrisi dan membuat proses pencernaan makanan jadi lebih optimal. 

Bakteri baik ini juga memproduksi berbagai jenis vitamin di saluran pencernaan manusia, diantaranya asam folat, vitamin B6, niacin, serta vitamin B12. Bakteri baik juga membantu melindungi tubuh ketika ada zat yang dapat memicu masalah, bakteri baiklah yang mengepung agar zat tersebut di dalam usus. Kemudian bakteri baik ini memproduksi asam yang akan membuat zat pemicu masalah itu tidak berkembang biak. Karena inilah, sistem imun tubuh mulai bekerja. 

  1. Bakteri Jahat

Inilah jenis bakteri yang mungkin lebih dikenal, yaitu sebagai sumber penyakit yang dapat menginfeksi manusia. Ketika bakteri jahat masuk ke tubuh, maka mereka akan memperbanyak diri dan menghasilkan racun yang menyebabkan munculnya masalah kesehatan.

Bakteri jahat harus diobati dengan antibiotik karena tidak bisa diobati dengan obat biasa. Bakteri jahat biasanya disebut patogen yang menyebabkan berbagai penyakit. Penyakit yang terkenal disebabkan oleh bakteri adalah pneumonia, meningitis, strep throat, hingga keracunan. 

Namun, jumlah bakteri baik dan jahat memang tidak selamanya seimbang dalam tubuh. Misalnya ketika menderita infeksi sehingga harus mengonsumsi antibiotik. Obat ini tidak hanya membunuh bakteri jahat, namun juga bisa membunuh bakteri baik. Sehingga terjadi ketidakseimbangan dengan ciri utama seperti munculnya masalah sistem pencernaan hingga diare.

Peranan Bakteri Baik Bagi Kesehatan Tubuh

Probiotik atau bakteri baik memang memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan tubuh. Apa saja?

  • Memperkuat sistem kekebalan tubuh manusia. Bakteri baik juga bisa menghilangkan rasa lelah, alergi, hingga penyakit lain.
  • Mencegah peradangan, terutama peradangan di usus
  • Mengurangi efek antibiotik, karena dapat mengurangi bakteri antibiotik dalam tubuh sehingga membuatnya tetap seimbang
  • Menyehatkan sistem pencernaan, karena memecah hidrokarbon yang gunanya mencerna makanan dalam usus. Selain itu juga bisa memudahkan penyerapan makanan di usus.
  • Mencegah dan mengobati eksim pada anak-anak dan juga menenangkan gejala eksim yang dialami oleh orang dewasa
  • Meredakan masalah pencernaan seperti diare, sembelit, hingga iritasi usus
  • Meningkatkan kesehatan vagina secara keseluruhan
  • Membersihkan saluran usus dari berbagai kotoran yang mengendap
  • Menghindarkan orang yang mengalami alergi produk olahan susu yang mengandung laktosa (intoleransi laktosa).

Peranan bakteri baik bagi kesehatan tubuh memang banyak. Selain menjaga agar jumlah bakteri baik dalam tubuh tetap seimbang, penting pula menghindari agar tidak terkontaminasi bakteri jahat penyebab penyakit.

Trombosis Vena Dalam (DVT), Apa Itu?
Penyakit

Trombosis Vena Dalam (DVT), Apa Itu?

Trombosis vena dalam atau Deep Vein Thrombosis (DVT) merupakan kondisi yang menimbulkan penggumpalan darah pada pembuluh vena. Kondisi tersebut biasanya terjadi pada kaki. Kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan gejala seperti rasa sakit, namun juga dapat menimbulkan kondisi yang lebih serius seperti sumbatan pembuluh darah.

Trombosis vena dalam terjadi ketika bagian kecil dari darah menggumpal pecah ke aliran darah sehingga dapat menyumbat pembuluh darah di paru-paru. DVT bisa menimbulkan kondisi yang lebih buruk jika penderita memiliki kondisi lain yang dapat mempengaruhi penggumpalan darah.

Trombosis vena dalam terjadi karena seseorang yang diam terlalu lama, terutama setelah menjalani operasi. DVT dapat menimbulkan kondisi yang berbahaya bagi tubuh, karena dapat menghambat aliran darah.

Gejala

Seseorang yang mengalami DVT akan menunjukkan gejala berikut:

  • Rasa sakit pada kaki (terkadang rasa sakit tersebut tampak seperti kram).
  • Kemerahan pada kulit kaki.
  • Kaki terasa hangat.
  • Pembengkakan pada kaki.
  • Nafas pendek.
  • Nyeri dada.
  • Denyut nadi bergerak dengan cepat.
  • Pusing.
  • Batuk yang disertai dengan darah.

Penyebab

Trombosis vena dalam disebabkan oleh hambatan aliran darah. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan kondisi tersebut, antara lain luka pembuluh darah, penggunaan obat-obatan tertentu, operasi, dan pergerakan secara terbatas.

Faktor Risiko

Pada umumnya, semua orang bisa mengalami trombosis vena dalam. Namun, orang-orang bisa lebih berisiko terhadap DVT jika mereka memiliki kondisi berikut:

  • Usia lebih dari 60 tahun.
  • Tidak banyak bergerak dalam waktu yang lama.
  • Kehamilan.
  • Kekurangan cairan di dalam tubuh.
  • Berat badan yang berlebihan.
  • Keluarga yang memiliki riwayat penggumpalan darah.
  • Operasi.
  • Varises.
  • Gagal jantung.
  • Penyakit radang usus.
  • Penyakit kanker.
  • Merokok.

Jika Anda Mengalami DVT

Jika Anda mengalami trombosis vena dalam, Anda sebaiknya hubungi dokter. Sebelum bertemu dengan dokter, Anda dapat mempersiapkan diri dengan beberapa hal sebagai berikut:

  • Daftar pertanyaan yang berkaitan dengan trombosis vena dalam.
  • Daftar gejala yang Anda alami akibat trombosis vena dalam.
  • Daftar riwayat medis (jika keluarga Anda memilikinya).

Ketika Anda bertemu dengan dokter, dokter akan menanyakan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala tersebut terjadi?
  • Apa saja gejala yang Anda alami?
  • Apakah keluarga Anda pernah mengalami DVT?

Diagnosis

Setelah mengetahui kondisi Anda, dokter dapat melakukan diagnosis yang meliputi:

  • Tes pencitraan

Tes pencitraan dilakukan untuk mengetahui kondisi pembuluh darah. Tes tersebut bisa berupa X-ray dan MRI.

  • Tes darah

Tes darah dilakukan untuk mengetahui kadar D-dimer. D-dimer merupakan jenis protein yang dihasilkan melalui penggumpalan darah.

  • Ultrasound

Ultrasound digunakan untuk mengetahui apakah darah pasien mengalir dengan baik melalui vena atau tidak.

  • Venografi

Venografi dilakukan untuk mengetahui letak gumpalan darah di dalam tubuh pasien.

Pengobatan

Berikut adalah beberapa cara untuk mengobati DVT:

  • Pengencer darah

Pengencer darah untuk mengobati DVT disebut sebagai antikoagulan. Obat pengencer darah tersebut bertujuan untuk mengurangi risiko penggumpalan darah. Obat tersebut dapat digunakan baik dalam bentuk pil maupun suntikan.

  • Penghancur gumpalan

Penghancur gumpalan atau trombolitik dapat dilakukan jika pasien memiliki gumpalan darah yang lebih buruk dan tidak dapat diatasi dengan obat.

  • Penyaringan

Penyaringan vena cava dilakukan untuk memastikan gumpalan darah tidak pecah dan menghambat aliran darah ke paru-paru.

  • Kompres stoking

Kompres stoking digunakan untuk mencegah pembengkakan akibat DVT.

Pencegahan

Berikut adalah cara-cara untuk mencegah DVT:

  • Jangan diam terlalu lama

Jika Anda duduk (pada saat bekerja), Anda perlu meluangkan waktu untuk beristirahat dengan berdiri dan melakukan peregangan. Anda juga dapat berjalan-jalan di sekitar tempat kerja Anda untuk mengurangi risiko DVT.

  • Ubah pola hidup

Cara lain yang perlu Anda perhatikan adalah mengubah pola hidup yang lebih baik seperti tidak merokok. Merokok merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko DVT.

  • Menjaga berat badan

Karena obesitas juga dapat meningkatkan risiko DVT, Anda perlu menjaga berat badan agar tetap ideal. Anda sebaiknya mengkonsumsi makanan yang sehat seperti sayuran dan buah-buahan, serta berolahraga secara teratur.

Kesimpulan

Trombosis (DTV) vena dalam merupakan kondisi yang perlu diwaspadai karena dapat membahayakan tubuh. Meskipun demikian, ada berbagai cara yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi DVT dan Anda perlu melakukannya secara rutin. Untuk informasi lebih lanjut tentang DVT, Anda bisa tanyakan persoalan tersebut ke dokter.

Penyakit

Cara Mengobati Purpura Trombositopenia Imun

Penyakit purpura trombositopenia imun merupakan kondisi di mana sedikitnya kadar trombosit dalam darah, padahal sumsum tulang normal dan tidak memiliki penyebab trombositopenia. Penyakit ini menyebabkan tubuh mudah memar dan berdarah, karena rendahnya jumlah sel keping darah yang berada di dalam tubuh penderitanya.

Kondisi ini bisa terjadi pada anak-anak dan dewasa dan tidak menular, sehingga interaksi langsung dengan penderita tidak menyebabkan seseorang tertular. Sel keping darah atau trombosit merupakan sel darah yang berperan dalam proses penggumpalan darah untuk menghentikan perdarahan, ketika jumlah trombosit rendah seseorang akan mengalami memar dan pendarahan dengan mudah.

Pengobatan Purpura Trombositopenia Imun

Setelah melakukan diagnosis, dokter akan menilai seberapa parah penyakit yang dialami penderita dengan melihat gejala yang muncul dan jumlah trombosit. Untuk keadaan yang ringan, tidak diperlukan penanganan secara khusus, namun dokter tetap akan memantau dan melakukan pemeriksaan trombosit secara rutin guna mencegah perdarahan.

Sementara itu penderita dalam kondisi parah akan diberikan penanganan untuk menjaga jumlah trombosit agar tidak turun, sehingga tidak terjadi pendarahan. Penanganan dalam kondisi parah bisa sebagai berikut ini.

  • Konsumsi obat, terdapat beberapa obat yang akan dikonsumsi pasien yang berfungsi meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan jumlah trombosit. Seperti kortikosteroid, eltrombopag, rituximab dan intravenous immunoglobin (IVLg).
  • Operasi, apabila pasien penyandang penyakit ini sudah parah dan konsumsi obat-obatan sudah tidak efektif dalam mengatasi gejala yang muncul, maka dokter akan melakukan operasi pengangkatan organ limpa atau splenektomi. 

Tujuan operasi ini adalah untuk mencegah hancurnya trombosit di organ limpa, meskipun prosedur operasi ini jarang dilakukan karena berisiko infeksi. Selain itu, jika pasien mengalami perdarahan maka rentan terjadi komplikasi di saluran pencernaan dan organ tubuh lainnya.

Gejala dan Penyebab

Purpura trombositopenia imun memiliki dua sindrom klinis berbeda, yakni bermanifestasi sebagai kondisi akut pada anak-anak dan kondisi kronis pada orang dewasa, penderita kerap kali mengalami memar pada kulit berwarna ungu atau purpura atau membran lendir di mulut. Memar ini muncul sebagai titik merah atau ungu dan dinamakan petekie.

Penyebab penyakit ini hingga saat ini belum diketahui secara pasti, namun dugaan utama adalah adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang dinamanakn autoimun. Penderita penyakit ini biasanya sistem kekebalan tubuhnya menganggap sel keping darah (trombosit) sebagai benda asing yang berbahaya.

Sehingga dibentuk antibodi yang menyerang trombosit tersebut, hal inilah yang menyebabkan jumlah trombosit menurun. Selain itu, terdapat beberapa hal yang dapat memicu munculnya penyakit ini pada seseorang di antaranya sebagai berikut ini.

  • Infeksi virus atau bakteri yang umumnya terjadi pada anak-anak, vaksinasi.
  • Paparan racun atau bahan kimia berbahaya seperti insektisida.
  • Penyakit autoimun lain seperti lupus dan pengobatan kemoterapi.

Gejala utama penyakit ini adalah munculnya rumah merah atau memar yang terjadi di berbagai bagian tubuh disertai dengan pendarahan yang sulit dihentikan saat mengalami luka. Adapula beberapa tanda dan gejala tambahan lain yang disebabkan karena penyakit ini, berikut di antaranya.

  • Rasa lelah yang berlebihan, kemudian mimisan.
  • Bercak darah pada urine atau tinja.
  • Gusi berdarah, terutama setelah menjalani perawatan gigi.
  • Perdarahan berlebih saat memasuki masa menstruasi.

Kasus yang terjadi pada anak terkadang tidak menimbulkan gejala, namun jika muncul biasanya bersifat ringan dan berlangsung selama kurang dari 6 bulan (akut). Meskipun harus dipahami jika gejala penyakit ini juga bisa berlangsung selama lebih dari enam bulan (kronis) dan sering terjadi para orang dewasa.

7 Cara Agar Bisa Kentut yang Bisa Dicoba
Penyakit

7 Cara Agar Bisa Kentut yang Bisa Dicoba

Anda mungkin pernah mengalami susah kentut dan tentu saja sangat mengganggu. Padahal, jika ditilik lebih lanjut, kentut adalah proses alami tubuh yang bertujuan mengeluarkan gas berlebih dalam pencernaan manusia. Tapi, ada beberapa cara agar bisa kentut yang bisa dicoba.

Menurut Institut Nasional Diabetes dan Penyakit Pencernaan dan Ginjal, disebut bahwa orang normal akan buang angin alias kentut 13 hingga 21 kali sehari. Bisa dibayangkan jika perut Anda kembung dan tidak bisa buang angin tentu saja sangat mengganggu aktivitas dan membuat tidak nyaman.

Cara Agar Bisa Kentut yang Bisa Dilakukan

Agar susah kentut yang Anda alami tidak berlarut-larut, maka ada beberapa cara agar bisa kentut yang patut Anda coba. Apa saja?

  1. Menggosok Perut dengan Minyak Kayu Putih atau Minyak Penghangat

Untuk bisa buang angin, Anda bisa mencoba menggosokkan perut searah jarum jam menggunakan minyak kayu putih untuk menghilangkan gas yang terjebak di dalam perut. 

Cara ini juga bisa mengurangi kram dan perut kembung yang dirasakan. Sehingga membuat perut Anda akan terasa nyaman dari sebelumnya. 

  1. Berjalan Kaki

Bergerak akan membuat Anda bisa mengeluarkan gas di perut. Bergerak di sini maksudnya tidak perlu yang berlebihan, cukup dengan berjalan kaki di sekitar rumah beberapa menit saja. Berjalan atau bergerak ini akan mendorong kentut keluar dari perut dan membuat perut jadi lebih nyaman.

  1. Mengonsumsi Makanan atau Minuman yang Dapat Mendorong Gas Keluar

Ada beberapa makanan dan minuman tertentu yang bisa membuat Anda bisa kentut. Seperti misalnya mengonsumsi minuman berkarbonasi atau soda. Anda juga bisa mengunyah permen karet, konsumsi buah yang tinggi serat, atau konsumsi produk susu. Namun perlu diingat, jangan sampai Anda mengonsumsi makanan atau minuman tersebut dalam porsi yang berlebihan karena bisa menimbulkan masalah pencernaan lain.

  1. Melakukan Berbagai Gaya Yoga

Cara agar bisa kentut selanjutnya adalah bisa dengan melakukan beberapa pose yoga. Apa saja pose yoga yang bisa dilakukan?

  • Pose Anak

Pose anak ini diri Anda ada dalam posisi berlutut. Kemudian, dorong tubuh membungkuk hingga bokong sedikit terangkat dan dada menyentuh lutut. Kemudian, luruskan lengan sehingga telapak tangan juga ikut menapak pada lantai.

  • Posisi Lutut ke Dada

Pose yoga ini bisa dilakukan dengan berbaring telentang dan angkat kaki Anda. Lalu, tekuk lutut Anda 90 derajat dan pertahankan posisi lutut dan pergelangan kaki. Kemudian, pegang bagian depan lutut atau paha atas dan tarik paha Anda mendekati dada.

Anda juga bisa menyelipkan dagu ie dada atau mencium lutut. Tahan posisi ini setidaknya selama 15-60 detik, tujuannya untuk memberikan tekanan ke perut sehingga akan membantu kentut keluar.

  • Pose Seated Forward Bend

Anda bisa mengambil posisi berbaring telentang dengan kedua lengan dibentang ke samping. Kemudian, angka kedua kaki dan tekuklah lutut Anda. Setelahnya, angkat tubuh Anda sedikit sambil menarik napas. Saat mengembuskan napas, Anda kembali menurunkan tubuh. Tahanlah posisi ini hingga selama 3 menit agar gas dalam perut Anda keluar.

  1. Minum Air Sebelum Makan

Anda juga bisa minum air setidaknya 30 menit sebelum makan agar membantu pencernaan Anda lebih baik. Tapi, jika Anda minum sambil makan, bisa menyebabkan asam lambung naik dan tidak dapat memecah makanan.

  1. Menghindari Pemanis Buatan

Makanan dan minuman yang mengandung pemanis buatan bisa memperburuk kondisi perut kembung dan sulit kentut. Namun, tidak pula berarti semua minuman manis dapat menyebabkan gas, ya. Pemanis buatan yang dimaksud adalah sakarin, aspartam, dan sukralosa yang berkaitan dengan efek gas ataupun pencahar.

  1. Kunjungi Dokter

Jika berbagai cara di atas tidak berhasil mengeluarkan kentut, maka sebaiknya periksakan ke dokter agar Anda mendapat penanganan medis yang tepat. Mungkin perlu obat-obatan tertentu yang tepat untuk mengatasi masalah yang dialami.