Lemaskan Otot Polos yang Tegang dengan Papaverin

Lemaskan Otot Polos yang Tegang dengan Papaverin

Bagi Anda yang sering mengalami kram otot pada perut, mungkin sudah familiar dengan papaverin. Obat yang seringkali digunakan untuk mengobati pergerakan otot yang picu kejang ini, bekerja di bagian sistem kemih atau sistem kantong empedu.

Tergolong sebagai obat vasodilator, Anda membutuhkan resep khusus dokter untuk menebus obat papaverin ini. Obat ini dikemas dalam sediaan suntik dan hanya boleh dikonsumsi oleh orang dewasa.

Papaverin pertama kali ditemukan oleh seorang ilmuwan Jerman pada tahun 1848. Selain untuk mengatasi kram pada otot-otot polos di sekitar saluran pencernaan, empedu, dan kemih, papaverin juga sering dimanfaatkan sebagai obat untuk membantu melebarkan pembuluh darah pada otak dan coroner ketika dalam situasi tertentu, seperti saat sedang operasi bedah. Papaverin juga dapat digunakan untuk mengatasi disfungsi ereksi pada kaum Adam.

Cara pakai papaverin

Telah disebutkan bahwa Anda membutuhkan resep dari dokter untuk mendapatkan obat yang mengandung papaverin di dalamnya. Namun, sebelum Anda mendapatkan resep untuk mendapatkan obat ini, perhatikan riwayat kesehatan Anda apakah pernah memiliki riwayat alergi terhadap jenis obat seperti ini.

Beberapa orang dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti gangguan pada jantung maupun pernah mengalami glaukoma, memiliki risiko kontraindikasi pada obat papaverin. Kondisi kesehatan lain yang perlu diperhatikan, yaitu AV Blok komplit, fibrosis, deformasi, dan implant tenis, serta adanya kondisi predisposisi priapism, seperti leukemia atau anemia sel sabit. Selain itu, seseorang dengan kondisi kerusakan hati, sedang mengandung dan menyusui, membutuhkan konsultasi dengan dokter terlebih dulu jika ingin mengonsumsi obat ini.

Ada pun cara pakai papaverin adalah diberikan dengan suntikan ke bagian otot atau vena yang dilakukan oleh dokter ahli.

Sebagai catatan tambahan, jika Anda sedang mengonsumsi jenis obat tertentu secara bersamaan dengan obat papaverin, kondisi ini dapat merujuk pada interaksi obat, seperti adanya efek depresan susunan saraf pusat dengan morfin maupun risiko pusing bahkan pingsan jika dikonsumsi dengan alprostadil dan phentolamine.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *