Hypervigilance Sebagai Gejala PTSD, Apakah Itu?
Kesehatan Mental

Hypervigilance Sebagai Gejala PTSD, Apakah Itu?

Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) adalah gangguan mental di mana seseorang mengalami berbagai gejala setelah mengalami suatu peristiwa traumatis, seperti pelecehan, kekerasan, bencana alam, kecelakaan, terorisme, penyakit, atau kematian orang terdekat. Hypervigilance adalah salah satu ciri utama dari gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Apakah itu hypervigilance

Mengenal hypervigilance 

Hypervigilance adalah salah satu bentuk kewaspadaan berlebihan atau lebih dari sekadar ekstra waspada. Orang yang sangat waspada selalu waspada dan cenderung bereaksi secara berlebihan. Penderita akan mempertahankan kesadarannya lebih intens, obsesif terhadap lingkungannya, dan sering memindai ancaman atau rute pelarian untuk berjaga-jaga.

Kondisi kewaspadaan ekstrim ini dapat merusak kualitas hidup penderitanya. Jika Anda sangat waspada, Anda mungkin selalu mencari bahaya yang tersembunyi, baik itu nyata maupun hanya diduga. Oleh sebab itu, kewaspadaan yang berlebihan dapat membuat Anda kelelahan, bahkan mengganggu hubungan interpersonal, pekerjaan, dan aktivitas Anda sehari-hari.

Apa penyebabnya?

Kewaspadaan berlebihan atau hypervigilance adalah cara otak melindungi tubuh Anda dari situasi yang mengancam, contohnya berjalan sendirian saat pulang larut malam di lingkungan yang asing. Ini bisa saja terjadi jika Anda telah lama berada di lingkungan berbahaya, seperti dalam pertempuran selama perang, atau mengalami trauma emosional yang ekstrem. 

Namun, hypervigilance juga dapat terjadi meskipun tidak ada bahaya fisik nyata. Umumnya, sebagai akibat dari kondisi PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).

PTSD adalah gangguan kecemasan yang berkembang setelah Anda mengalami atau melihat suatu peristiwa traumatis atau mengancam jiwa, meliputi:

  • Pertempuran militer.
  • Kematian seseorang yang dicintai.
  • Pelecehan seksual.
  • Kecelakaan serius.
  • Intimidasi yang berkepanjangan.

Hypervigilance adalah ciri utama dari PTSD, karena penderitanya takut kalau trauma yang dimilikinya datang kembali. Akibatnya, mereka menjadi selalu waspada untuk mengantisipasi trauma itu terjadi lagi.

Pemicu umum hypervigilance lainnya

Tak hanya PTSD, hypervigilance juga dapat disebabkan oleh kondisi skizofrenia, paranoia, demensia, dan gangguan kecemasan lainnya, seperti gangguan bipolar dan obsesif kompulsif. Selain itu, ada juga beberapa pemicu umum yang dapat berkontribusi munculnya episode hypervigilance, seperti dalam kondisi:

  • Sesak atau terjebak.
  • Ditinggalkan.
  • Mendengar suara keras, terutama suara emosi dari pertengkaran, atau benturan tiba-tiba.
  • Mengantisipasi rasa sakit, ketakutan, atau penilaian terhadap ancaman.
  • Merasa dihakimi atau tidak diinginkan.
  • Merasakan sakit fisik.
  • Merasa tertekan.
  • Flashback akan trauma masa lalu.
  • Berada di lingkungan orang-orang yang kacau.

Bagaimana dengan gejalanya?

Ada 4 tanda atau gejala umum dari hypervigilance, yaitu:

  1. Memprediksi suatu ancaman terlalu berlebihan, seperti mengurung diri untuk menghindari serangan atau duduk di dekat pintu keluar agar bisa melarikan diri dengan cepat.
  2. Menghindari ancaman secara obsesif, seperti menghindari situasi di mana bahaya dapat mengintai, termasuk pertemuan publik dan ruang publik yang tidak berpenghuni. 
  3. Sering terkejut, seperti melompat saat mendengar suara, gerakan, atau kejutan apa pun secara tiba-tiba, bahkan di tengah malam. 
  4. Gejala fisiologis yang diinduksi oleh epinefrin (adrenalin), yaitu hormon stres yang terkait dengan refleks melawan-atau-lari. 

Seseorang dengan hypervigilance terkait PTSD sering mengalami respons epinefrin berkelanjutan, yang ditunjukkan dengan pupil membesar, detak jantung meningkat, dan tekanan darah tinggi. Penderita hypervigilance juga berisiko tinggi mengalami agoraphobia, yaitu kecemasan berada di tempat-tempat yang mungkin sulit untuk melarikan diri. 

Dalam kasus ekstrem, orang yang sangat waspada mungkin saja mempersenjatai dirinya dengan senjata api atau pisau ke mana-mana untuk membuatnya merasa aman. Oleh sebab itu, jika Anda mengalami hypervigilance, segeralah minta bantuan psikolog/psikiater untuk mengobati kondisi Anda ini.